New School
September 13, 2011Stratford, Ontario, Canada.
Friday, 01st June 2007.
07:15 AM.
Udara pagi ini begitu mencekam. Rasanya Paris ingin mengambil selimut yang lebih banyak lagi. Tubuhnya jadi menggigil begini apalagi ditambah pendingin ruangan yang dari semalam hidup terus tanpa non-stop. Duh, ini pasti karena berenang terlalu lama dan ditambah lagi dia tidur cukup malam. Sempurna semuanya!
Paris membuka matanya perlahan. Menahan rasa ngilu yang singgah di tubuhnya. Dan dia benar-benar yakin kalau kakaknya bakal memarahinya atau mungkin mengadu ke ayah mereka?
Paris melihat teman-temannya yang masih tertidur lelap. Muka lucu Justin membuatnya tersenyum kecil. Memang semenjak pertama kali bertemu dengan Justin, Paris cukup mengaguminya. Bukan hanya karena wajahnya yang lucu tapi juga karena permainan basketnya yang sangat memukau.
"Ehm? Good morning." Justin berusaha menyadarkan Paris yang sedaritadi melihatnya. Ini sudah sapaan ke 2 yang Justin lontarkan dari mulutnya, tapi tetap saja gadis yang berada di depannya itu tidak tersadar dan masih tetap terhanyut dalam lamunannya.
"Hmm, Good morning?" Justin menyapa Paris sekali lagi, mencoba untuk membangunkan gadis itu dari lamunannya.
"Eh, sorry?" Paris tersadar kalau daritadi laki-laki yang berada di depannya sudah memberi sapaan, hanya saja dia terlalu serius memandang wajah lucu Justin, sampai-sampai dia tidak membalas sapaannya.
"Do you sleep with your eyes open?" Justin sedikit menyinggung Paris dengan senyum nakal di wajahnya.
Paris melihat Justin sinis. Tapi untungnya dia hanya menyindir dan tidak ke-GR-an. Paris masih bisa bernafas lega untuk saat ini. Sebenarnya sih hanya mengagumi, tapi kalau melihat mata emasnya untuk terlalu lama, itu bisa lebih dari sekedar mengagumi.
********************************************************
"Let's play." Kini Paris dan teman-teman yang lain sudah berada di rumah keluarga Beadles. Setelah sarapan pagi di rumah Paris, mereka langsung pergi menuju ke rumah keluarga Beadles.
Justin dan Ryan berusaha mendirikan tenda kecil di kediaman Beadles. Chaz dan Christian juga ikut membantu, membantu merobohkan tenda yang sudah hampir berdiri megah. Tapi akhirnya kerja keras mereka membuahkan hasil. Kini, tenda kecil berwarna ungu muda sudah berdiri megah di tengah-tengah ruang keluarga. Caitlin memasukkan semacam kasur kecil ke dalam tenda tersebut.
"I want to be a dad!" Christian mendekatkan badannya ke arah tenda. Tampaknya dia semangat sekali untuk bermain. Dan sepertinya dia mempunyai obsesi yang besar untuk menjadi seorang ayah.
"No! I'll be a dad!" Chaz berteriak tak kalah kuatnya dari teriakan Christian sebelumnya. Dia mendekatkan badannya ke arah Christian dengan tatapan menantang.
Paris masih tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Christian dan Chaz. Yang jelas dia sangat bingung kenapa mereka ingin menjadi seorang ayah dalam umur yang semuda ini.
"Chill out. We will pick who will be a dad and who will be a mom. Are you ready?!!!" Caitlin mencoba untuk menenangkan suasana yang seidkit ricuh.
Chaz dan Christian saling bertatapan seakan-akan mereka berdiskusi apakah mereka bersedia menerima ide Caitlin untuk mengundi siapakah yang akan menjadi seorang ayah dan seorang ibu, atau lebih tepatnya pasangan suami istri?
Dan akhirnya mereka saling tersenyum senang ketika mengetahui kalau Chaz dan Christian menyetujui ide Caitlin.
"Whohohohohohoho!!! Sorry man, I win!" Dengan sekejap, ruangan tempat mereka berkumpul langsung dipenuhi oleh suara teriakan Ryan. Dia berteriak kesenangan karena dia yang akan menjadi seorang ayah untuk hari ini. Dan siapa yang akan menjadi istrinya?
"POOR ME" Christian terlihat jengkel karena Paris lah yang akan menjadi istri Ryan. Tapi dia cukup menyembunyikan semua itu. Dia tidak mau permainan ini menjadi kacau karena ke-egois-an dirinya.
"I do not understand anything. What should I do?" Paris mengerutkan dahinya. Baru saja ikut bermain, dia sudah terpilih menjadi 'The Queen' untuk hari ini. Duhhhh.
"You just have to pretend to be a mother. And think of Ryan as your husband. Maybe this is weird because this is the first time you know about this! But, enjoy... Hahahah" Justin mencoba menjelaskan tentang permainan ini. Tapi tetap saja Paris bingung.
Hahahahhaha..........
**********************************************************
"Why did you just stay quiet?" Justin heran dengan sikap sahabatnya yang 1 ini. Tidak biasanya dia begini, hanya biacara seperlunya saja. Justin tau ada yang salah dengan Christian dan dia berusaha untuk mencari tahu tentang itu.
"You think?" Christian melipat kedua tangannya, mengalihkan pandangannya ke Justin dan menjawab pertanyaan Justin sesingkat mungkin lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah TV yang tepat berada di depannya.
"Jealousy?" Justin mencoba menebak apa yang sedang ada dipikiran Christian saat ini. Justin merasa kalau Christian cemburu karena Ryan yang menjadi ayah dan Paris yang menjadi ibu.
"....." Christian hanya terdiam. Tidak mengeluarkan sedikit kata pun. Hanya hembusan nafasnya yang terdengar. Bagaimana Justin bisa tahu tentang ini?
"Hahahahaha OMG ahahhahaha" Justin tertawa sambil mengacak rambut Christian. Sudah ketahuan kalau Christian memang cemburu dengan Ryan. Justin sudah tidak tahan lagi melihat muka sahabat yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Baru kali ini Justin melihat Christian marah hanya karena hal sepele seperti ini.
"Not funny." Christian hanya merespon tawaan Justin dengan kata yang singkat dan tatapan sinis. Bagi Justin, ini memang lucu bahkan sangat lucu tapi bagi Christian????
"Do not let someone take her." Justin mencoba menenangkan Christian. Memberi pengarahan supaya dia tidak terlalu terbawa rasa cemburunya.
**********************************************************
Sunday, 03rd June 2007.
08:30
Paris merasa kalau ada seseorang yang sedang mencium keningnya. Seketika dia langsung terbangun dari tidurnya.
"Uh, Dad?" Paris sedikit terkejut melihat ayahnya yang sudah berada dikamarnya. Kalau menurut jadwal, seharusnya ayahnya masih berada di Boston, tapi sekarang ayahnya sudah terduduk manis di pinggiran tempat tidur Paris.
"Surprise!" Ayah Paris malah tertawa melihat raut muka putrinya yang keheranan.
"I purposely came home early because I miss you." Ayahnya memberikan penjelasan mengapa dia datang lebih cepat. Satu, karena dia telah merindukan anak-anaknya. Dan yang kedua, hari ini mereka akan mencari sekolah.
"Do not waste your time. Take a shower immediately and we'll go find a new school!"
**********************************************************
Setelah menghubungi beberapa rekannya, akhirnya Mr. Adelson memutuskan untuk mengunjungi Stratford Central School. Menurut kebanyakan orang, sekolah ini sekolah yang terbaik yang ada di Stratford.
Stratford Central School.
[ http://twitpic.com/5yslbi ]
Sepertinya Paris akan menjadi murid di sekolah bertaraf nasional ini. Untuk hari ini Paris, ayahnya dan salah satu rekan ayahnya hanya berkeliling melihat-lihat isi sekolah.
"I think the school is suitable for you." Mr. Adelson menatap Paris yang sedang asyik membaca artikel yang tertempel di mading sekolah.
"I think so." Paris menanggapi perkataan ayahnya. Baginya, sekolah ini emang cukup nyaman. Ruangan kelas yang besar dan bersih menjadi nilai tambah sekolah ini.
Setelah selesai mengelilingi SCS (Stratford Central School), Paris, ayahnya, dan rekan ayahnya langsung pergi untuk mencari sekolah baru kakaknya, Jennifer.
***********************************************************
Stratford High School.
[ http://twitpic.com/5yt4rm ]
Jennifer dan ayahnya langsung turun dari mobil ketika sudah sampai di depan SHC (Stratford High School). Sedangkan Paris lebih memilih menunggu di mobil sambil memainkan handphone kakaknya.
Sekolah yang bercorakkan warna coklat menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun gaya bangunannya tidak modern, tapi sekolah ini berhasil menjadi sekolah unggul, itulah mengapa Jennifer memilih sekolah ini.
Jarak sekolah Paris dengan sekolah Jennifer tidak terlalu jauh sehingga ayahnya tidak terlalu repot kalau mengantar mereka.
Jennifer yang sekarang duduk di kelas 10 masih belum diperbolehkan ayahnya untuk membawa mobil sendiri walaupun Jennifer sudah bisa membawanya.
Sudah sekitar 20 menit Paris menunggu di dalam mobil. Akhirnya ayah dan kakaknya muncul juga dari arah koridor sekolah. Jennifer sendiri tampak senang dengan sekolah ini.
"How is your school?" Paris bertanya saat kakaknya telah masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalanya ke kursi.
"Cooler than yours." Jennifer menjulurkan lidahnya lalu mengambil handphonenya yang berada di pangkuan Paris.
"I am not sure." Paris tidak mau kalah dengan kakaknya yang mengatakan kalau sekolah baru kakaknya lebih keren dari sekolah barunya.
"Hahaha, I was kidding babyyy!" Jennifer mencubit pipi Paris dan tertawa melihat reaksi adik perempuannya itu.
"Uh? I know!"
***********************************************************
Monday, 04th June 2007.
06:00 AM
"Honey, wake up!" Ayah Paris mengelus rambut pirang putrinya tersebut. Berusaha membangunkan putrinya yang masih tertidur lelap.
Ini hari pertama Paris sekolah. Dan 2 minggu lagi, Paris akan menghadapi Ujian Kenaikan Kelas. Untung saja Paris termasuk anak yang berprestasi dan selalu masuk peringkat 3 besar di sekolah lamanya. Mungkin dengan itu dia bisa beradaptasi dengan baik di sekolah barunya.
"Huaaaaaaahhhhhhh" Paris tersadar dari tidurnya dan langsung menguap dengan suara yang cukup besar.
Ayahnya langsung menutup hidungnya dengan tangannya.
"Uhhhh Dad!!" Paris memukul tangan ayahnya pelan. Dia merasa sedikit tersinggung dengan perlakuan ayahnya. Hahahahahahaha.
"Hahaha, sorry sorry! Let's get up and take a shower!" Ayahnya menarik kedua tangan Paris. Lalu menggendong putrinya ke arah kamar mandi yang ada di pojok ruangan.
"Haha thank you, Dad." Paris turun dari gendongan ayahnya dan mengambil handuk yang tergantuk di samping lemari banjunya.
"If you have finished, go to downstairs for breakfast." Ayahnya berteriak ketika Paris sudah berada di dalam kamar mandi.

0 comments