A glass of chocolate milk made by Justin!
September 13, 2011"HEY!!!"
"PARIS!!!!" Paris tersadar dari lamunannya ketika dia mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh ke segala arah, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
"HERE!!!" Terdengar suara teriakan yang lebih kuat lagi. Tanpa sengaja, Paris menoleh ke arah rumah Justin, lebih tepatnya kamar Justin yang terletak di lantai atas. Dari jendela sudah terlihat 4 orang anak laki-laki yang sedang memberi kode kalau sebenarnya mereka yang sedari tadi memanggil Paris.
"WHAAAAT??!" teriak Paris cukup kuat, supaya mereka berempat bisa mendengar apa yang dikatakannya.
"COME TO MY HOUSE!!!" teriak Justin sambil memberi kode melalui tangannya.
"WHAAAT??! I CAN'T HEAR YOU!!!" teriak Paris lebih kuat. Dia sama sekali tidak mendengar apa yang Justin dan teman-temannya katakan. Suara gemercik air yang berasal dari kolam berenang yang ada tepat di depannya ternyata berhasil mengalahkan teriakan Justin dan teman-temannya.
Justin dan teman-temannya tidak merespon teriakan Paris melainkan langsung menghilang. Yang jelas Paris sudah tidak melihat mereka ada di dekat jendela.
******
"Hey!!!" Paris tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara yang tepat di belakangnya.
"Hi all, why are you here?" tanya Paris turun dari kursi yang sedang didudukinya dan langsung mendekat ke arah Justin dan yang lainnya.
"You seem to enjoy this atmosphere" ujar Ryan memandang suasana di halaman belakang rumah Paris yang memang memberikan kesan menenangkan.
"Yes, I like this atmosphere. I love hearing the sound of water splashing. It makes the mind becomes calmer" ujar Paris berjalan ke arah kolam berenang lalu duduk di tepinya. Kakinya dimasukkan ke dalam kolam lalu dia menggoyangkan kakinya pelan.
"Come here!" ujar Paris melihat ke empat temannya yang masih berdiri di dekat pintu masuk halaman belakang.
Ke empat anak laki-laki itu berjalan santai menghampiri Paris yang sudah duduk manis di pinggir kolam.
Christian langsung mendudukkan badannya tepat di samping Paris. Chaz, Justin, dan Ryan melihat satu sama lain, dan langsung menaikkan bahu mereka. Itu tandanya mereka bingung dengan perlakuan Christian.
1 menit, 2 menit, 3 menit masih dalam suasana yang membisu. Tidak ada 1 orang pun yang membuka mulut untuk memulai membicarakan suatu topik.
Chaz daritadi hanya sibuk dengan topinya. Entah apa yang dia lakukan dengan topi biru tua kesayangannya itu....
Dan tanpa sengaja, Justin menyenggol tangan Chaz sehingga topinya jatuh ke dalam kolam berenang.
"Hhhhhhhhhh!!" Chaz menggaruk kepalanya sambil mendengus kesal.
Dia mencoba meraih topinya menggunakan kakinya tapi sialnya, topinya malah tambah menjauh ke tengah kolam.
"Ahaa!" celetuk Paris tiba-tiba tersenyum. Dia berdiri dari posisi duduknya lalu melihat ke arah teman-temannya yang menatapnya bingung. Daan, tanpa banyak omong, Paris langsung menceburkan badannya ke dalam kolam.
"Come on!" Paris menghentak-hentakkan tangannya di kolam sehingga ke empat temannya jadi ikutan basah.
Christian menjulurkan tangannya ke Paris dan langsung saja Paris memegang tangan Christian dan menariknya ke dalam kolam.
Christian yang sudah berada di dalam kolam langsung menarik kaki teman-temannya daaaan.....
BYUUUUUUUUURRRRRRRRRRRRRR.
Seketika suasana di halaman belakang langsung berubah menjadi riuh karena suara teriakan dan tawa mereka.
*************
"Hatchimmm!"
Ini sudah yang kesekian kalinya Paris bersin. Hidungnya pun sudah tampak memerah dan matanya tampak sayu.
Paris, Chaz, Christian, Justin, dan Ryan sudah menghabiskan 2 jam lebih untuk bermain-main di kolam. Dan alhasil, Paris pun jadi bersin-bersin begini. Uh, rasanya dia menyesal karena tadi sudah menceburkan dirinya.
"Mmmm, how about stay at my home tonight? It will be great! Because Caitlin will be there too!" ujar Justin sambil melihat ke arah teman-temannya yang sedang asik menikmati acara TV.
"I'm sure, my sister won't let me! How about stay at my home? Uhm, and who is Caitlin?" jawab Paris melihat ke arah Justin dengan raut muka penasaran.
"Good idea. But I must ask my mom first. Caitlin is Christian's big sister." ucap Justin melihat Christian yang sedang asyik menonton TV.
Paris mengangguk setuju. Dan sekarang ke empat anak laik-laki itu berpamitan untuk pulang ke rumah Justin untuk meminta izin kepada Patricia. Kalau Chaz, Christian, dan Ryan tidak perlu meminta izin kepada orangtua mereka. Karena memang weekend ini mereka sedang menginap di rumah Justin. Jadi, selama mereka masih bersama Justin, mereka masih aman. Hahaha.
********
19.15
Kini Chaz, Christian, Justin, Jennifer, Ryan, dan juga saudara perempuan Christian sedang berkumpul di ruang makan. Jennifer senang dengan kedatangan teman-teman baru Paris. Mungkin dengan mereka, dia tidak terlalu merasa kesepian lagi. Dan sudah pasti mereka sedang menunggu masakan yang sedang dihidangkan Selly.
Nyam. Nyam. Nyam.
********
22.30
"Hatchimmm!"
Paris terjaga dari tidurnya. Sebenarnya dari tadi dia sudah bersin berkali-kali tapi kali ini dia sudah tidak tahan. Hidungnya terasa mampet, dan badannya pun terasa pegeeeel semua. Uh, benar-benar menyiksa.
Paris menguap dengan mata yang masih belum mau terbuka. Itu tandanya dia memang masih ngantuk.
Seharian ini dia bermain terus dengan teman-temannya, sampai-sampai tidak istirahat. Alhasil jadi begini deh.
Paris melihat ke sekelilingnya. Semua teman-temannya sudah tertidur pulas. Paris terduduk sebentar di tempat tidur yang memanjang itu, mengumpulkan penuh tenaganya.
"Paris?"
Baru saja Paris ingin melangkahkan kakinya, seseorang memanggil namanya dengan suara yang agak berbisik.
Paris menoleh ke arah belakang, ke arah suara itu.
"Justin?"
Dengan wajah heran, Paris melihat Justin. Entah Justin belum tidur daritadi atau entah dia terbangun karena mendengar suara bersin Paris.
"Where are you going?" tanya Justin sambil mengucek matanya. Um, itu berarti Justin memang terbangun.
"Kitchen." jawab Paris melihat ke arah Justin sebentar lalu melangkahkan kakinya berjalan ke arah dapur.
"Waittt!" ujar Justin menghentikan langkah Paris. Dia beranjak dari tempat tidur lalu mengikuti Paris dari belakang.
********
"Hey! That's wrong! Here, let me make it!" ujar Justin menghentikan aksi Paris saat Paris hendak menuangkan gula ke dalam gelas yang sudah berisikan susu coklat yang sudah ada airnya. Uhh, ini benar-benar salah!
Justin mengambil 2 gelas baru dari tampatnya lalu menuangkan susu coklat ke dalam gelas itu dan menaruh sedikit gula ke dalamnya, setelah itu dia menuangkan air hangat ke dalam kedua gelas itu.
"Done!" ujar Justin saat dia sudah selesai mengaduk susu yang dibuatnya. Justin menyodorkan satu gelas lainnya kepada Paris.
"It looks....... uhmmmmm" ujar Paris sambil mencium aroma susu coklat hangat yang sekarang sudah berada di tangan kanannya. Sekali dua kali dia meniup susu coklat itu, mencoba untuk mendinginkannya.
"I don't think it turns out you can make it." ujar Paris sambil terkekeh. Dia melihat kearah Justin yang sedang menikmati minumannya. Paris tidak menyangka kalau anak laki-laki yang sedang duduk di sebelahnya ini ternyata cukup mengerti dalam hal seperti ini.
"You underesimate me?" tanya Justin sambil melihat Paris yang masih terkekeh.
"Hahaha no, don't take it too serious." ujar Paris sambil mengelus rambut keemasan Justin pelan.
Duh, Justin jadi salah tingkah terus pipinya memerah.
"Are you feeling better?" tanya Justin saat tangan paris sudah tidak lagi mengelus rambut keemasan Justin.
"Little bit better. Thank you for this." ujar Paris tersenyum sambil mengangkat gelas yang berisikan susu coklat.
***********
Sebenarnya ada 1 hal yang daritadi mengganjal di pikiran Justin. Tapi dia tidak enak hati untuk menanyakan hal ini kepada Paris. Um, mungkin lain waktu saja.
Sekarang Justin dan Paris sedang duduk berdua di sofa yang terletak di ruang santai keluarga Adelson.
"I always miss my mom. I really wanted to meet her!"
Justin merasa seakan-akan gadis yang sedang duduk di sampingnya ini bisa membaca pikirannya. Inilah pertanyaan yang daritadi mengganjal di pikiran Justin, tentang keberadaan ibu Paris. Justin semakin penasaran dengan perkataan yang barusan diucapkan Paris.
"Um, where is your mom?" tanya Justin dengan muka polosnya menanyakan hal ini.
"I'm sure, she was in heaven!"
Deeg. Justin jadi merasa tidak enak karena menanyakan hal ini. Ya, setidaknya Justin masih lebih beruntung dibandingkan Paris.
"I...am sorry. I'm not...."
Omongan Justin terhenti karena Paris sudah lebih dahulu memotong kalimatnya.
Dia sudah lebih dulu tersenyum, dan mengatakan "That's OK!"
Mata emas Justin dan mata Paris saling beradu. Sekitar 5 detik melihat mata Paris, dia sudah membaca sesuatu hal dari mata itu. Justin tahu betul kalau sebenarnya gadis ini mau menangis, hanya saja dia menahannya dan lebih memilih untuk mengelurkan senyum palsunya.
"Looks like we need to sleep. Or .... you'll get sick!" ujar Justin sambil mengacak rambut Paris lalu beranjak dari sofa menuju ke kasur yang tepat ada dibelakang sofa ini.
"You're right! I'm so sleepy!" ujar Paris beranjak dari sofa dan mengikuti Justin dari belakang.
"Good night! Sleep well and sweet dreams!" ujar Justin saat dia sudah berbaring di kasur.
"You too!" ujar Paris tersenyum kecil lalu mereka tidur dibalik selimut masing-masing.
0 comments